konsultasi cerai gratis, pengacara perceraian, pengacara bandung
KANTOR HUKUM

Kantor Hukum Asep Arif Hamdan dan Rekan

Cara Memenangkan Hak Asuh Anak Setelah Perceraian di Pengadilan

Cara Memenangkan Hak Asuh Anak Setelah Perceraian di Pengadilan Agama – Bagi agan sista yang sudah bercerai, kemungkinan agan sista akan dihadapkan dengan masalah lain yang biasanya muncul setelah terjadinya perceraian. Masalah-masalah lain tersebut diantaranya adalah masalah hak asuh anak serta pembagian harta gono gini.

Mengasuh anak sendiri sebenarnya merupakan kewajiban kedua orang tua anak, baik itu agan sebagai ayahnya atau sista sebagai ibunya, keduanya sama-sama mempunyai kewajiban untuk mengasuh anak meskipun sudah terjadi perceraian diantara agan dan sista. Namun demikian, adakalanya keinginan orang tua untuk selalu bersama dengan anak tercintanya menjadi penyebab permasalahan baru bagi pasangan yang sudah bercerai.

Baca Juga : Sah Jadi Pengacara, Kang Asep Fokus Tangani Masalah Perceraian

cara mendapatkan hak asuh anak, gugatan hak asuh anak, mempertahankan hak asuh anak, merebut hak asuh, hak asuh anak dibawah umur, hak asuh anak setelah perceraian, hak asuh anak dalam islam

Jika merujuk kepada Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 105 ayat (a) menyebutkan bahwa “Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya” Itu berarti, pada dasarnya apabila terjadi perceraian, maka hak asuh anak untuk anak-anak yang belum dewasa (belum berumur 12 tahun) jatuh ke tangan ibu dari anak tersebut. Sedangkan Jika anak tersebut sudah dewasa, maka diserahkan kepada keputusan anak tersebut apakah memilih bersama ibunya atau bersama ayahnya.

Perhatikan bunyi pasal 105 KHI ayat (b) dan (c) berikut ini :

b. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaanya;
c. biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.

Lalu, bagaimana jika seorang ayah ingin mendapatkan hak asuh anaknya yang berusia dibawah 12 tahun?

Perhatikan Pasal 156 (c) Kompilasi Hukum Islam (KHI) berikut ini :

c. Apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula;

Dengan demikian, maka apabila agan sebagai ayahnya ingin mendapatkan hak asuh anak (hadhanah), maka agan harus bisa membuktikan bahwa  ibunya tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak agan karena tabiat jelek ibunya dalam mendidik anak. Misalnya saja sering membentak anak, mancaci, menghina atau bahkan melakukan kekerasan secara fisik terhadap anak. Bisa juga ibunya tidak melakukan hal tersebut secara langsung akan tetapi dapat memberikan contoh yang tidak baik bagi anak, misalnya gaya hidup ibunya yang terlalu boros, tidak bermoral dan lain sebagainya. Atau dapat juga karena alasan lingkungan tempat tinggal ibunya yang tidak baik untuk perkembangan anak misalnya lingkungan prostitusi, narkoba dan sebagainya.

Saran kang asep, sebaiknya agan jangan memberikan alasan yang berada diluar konteks dari Pasal 156 (c) Kompilasi Hukum Islam yang kang asep sebutkan diatas. Misalnya agan memberikan alasan karena agan lebih mampu secara ekonomi dan lain-lain. Harap diingat dan dicatat bahwa sedari awal biaya hadhanah dan nafkah anak sudah menjadi tanggung jawab ayah. Jadi kemampuan lebih secara ekonomi tidak dapat dijadikan alasan untuk mendapatkan hak asuh anak supaya jatuh ke tangan agan sebagai ayahnya.

Perhatikan bunyi Pasal 156 (d) berikut ini :

d. Semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggung jawab ayah menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dapat mengurus diri sendiri (21 tahun).

Sebaliknya, jika sista sebagai seorang ibu ingin mendapatkan atau memenangkan hak asuh anak, maka caranya tiada lain dan tiada bukan adalah dengan membuktikan di persidangan bahwa sista dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak.

Demikian informasi cara memenangkan hak asuh anak setelah perceraian di Pengadilan Agama yang dapat kang asep sampaikan. Saran kang asep, jika agan sista merasa bingung dengan masalah hak asuh anak atau membutuhkan bantuan untuk perkara hak asuh anak, sebaiknya agan sista konsultasikan saja kepada pengacara kepercayaan agan sista.

Baca Juga : Ini Dia Besaran Biaya Jasa Advokat Pengacara Saat Ini

10 Comments

Tulis Komentar